FKKS

Forum Kerjasama Keluarga dan Sekolah

12 Comments Add your own

  • 1. agung kurniawan  |  Agustus 6, 2008 at 10:53 am

    Forum ini fungsi dan tugasnya apa, mohon diberikkan penjelasan, masalah-masalah apa saja yg bisa dijembatani oleh FKKS.Terimakasih

    Balas
  • 2. Syafrudin  |  Maret 21, 2009 at 10:06 am

    Assalamu ‘alakum Wr Wb.
    Salam Kenal untuk Semua Ms, Mr. dan Orang tua. Anak Saya Kelas I.
    Untuk pelajaran Tahfidz Sy lihat pola pengajarannya kok gak jelas. Mr ‘Pengajar’ ‘HANYA’ memberikan tugas surat yg harus di hafal siswa di rumah. kemudian siswa ‘tinggal’ setor kepada pengajarnya. Tentu saja Siswa kelimpungan (baca stress) karena iqra’ saja ada yg belum lancar apalagi Al Qur’an, kok sudah dikasih menghapal surat apalagi secara ‘mandiri’. Sy Kira hal ini tidak tepat dan tidak bisa diterapkan untuk anak kelas I atau yang belum bisa baca Alqur an. Mr/Ms bisa menerapkan seperti ini jika Anak ‘Kita’ sudah mampu membaca Al Qur’an.
    Mestinya di genjot/di drill dulu Iqro’nya baru menghapal scr mandiri, atau bisa juga menghapal di sekolah bareng-2 satu surat, dirumah tinggal melancarkan oleh masing-2 siswa.

    Dengan metode ‘Setor’ tadi, Alhasil dirumah menjadi tugas dan ‘beban yg tidak perlu’ bagi Orang Tua untuk membimbing dan ‘menunggui’ sampai si Anak hapal, karena kalo gak hapal maka nilainya ‘jelek’ sewaktu disetor. Bukan Kami tidak mau membimbing, sebab kalo membimbing melancarkan saja bolehlah, tapi kalo membimbing dari awal… Sy kira itu tugas Pengajar yang tidak bisa dialihkan ke Orang Tua. Justru Kalo menurut Sy orang tua yang minta setoran dari Anak ‘Apa yang di dapat di sekolah?’ bukan sebaliknya Guru yang minta Setor.. Lha kalo begini siapa Guru dan Siapa Orang Tua..Jangan dibolak-balik fungsinya. Dan lebih jauh Ini kesan yg muncul berarti Guru ingin ‘enaknya’ saja dalam memberikan pelajaran dalam hal ini tahfidz (Sy tidak suudzon tapi kesan seperti ini tak bisa diabaikan, mestinya fitnah seperti ini bisa kita jaga). Anak kan sudah disekolah sampai sore, lha kalo dirumah masih menghapal, masih di drill lagi, apa gak kasian dan bisa ‘bosan’. Efek Bosan ini hrs dijaga Pak, jangan sampai muncul pada anak. Sy kira Ms dan Mr punya metode alternatif yang islami dalam hal ini sehingga tidak memancing penafsiran/fitnah ‘mengajar seenaknya’.

    Maaf Saya bicara lugas saja, harap dapat dijadikan evaluasi agar lebih maju. Sebab Sy juga ikut bertanggung jawab selain terhadap anak kami, juga terhadap pola pengajaran generasi Islam. Sehingga ALHikmah tidak hanya nama tetapi memiliki output sesuai maknanya. Amiin
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Balas
  • 3. Kurikulum  |  Maret 26, 2009 at 10:37 am

    Asalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sebelumnya kami ucapkan terima kasih banyak atas saran, masukan dan kritik yang disampaikan kepada kami, demi perbaikan dan pengembangan pendidikan dan pembelajaran di SDIT Al-Hikmah. Kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila masih terdapat banyak kekurangan di sana-sini.
    Mengenai pembelajaran Tahfidz, mungkin ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi.
    Pertama, guru tidak semata-mata memberi PR tanpa men-drill terlebih dahulu. Metode pengajarannya adalah: siswa dikelompokkan berdasarkan pencapaian hafalannya, 1 kelompok terdiri dari 4 – 6 anak. Kelompok dipanggil secara bergantian oleh guru Tahfidz di ruang tersendiri, supaya tidak mengganggu anak-anak lain yang melakukan kegiatan BTAQ (Baca Tulis Al-Qur’an) pada waktu yang sama, dengan dibimbing oleh wali kelas dan guru kelas. Tiap-tiap kelompok dibimbing selama kurang lebih 10 menit untuk menghafal bersama (klasikal), guru memperdengarkan hafalan kemudian siswa mengikuti bersama-sama, dan secara berulang-ulang. Sesekali apabila jadwal siswa menyetorkan hafalannya, baru dipanggil satu per satu di ruang kelas.
    Kedua, PR yang diberikan sifatnya memperlancar apa yang sudah dihafal di sekolah, karena ada beberapa anak yang kesulitan dalam menghafal secara bersama-sama, sehingga harus diulang lagi di rumah dengan bantuan orang tua. Ada pula beberapa anak yang bahkan minta diberi PR sendiri walaupun dia sebenarnya sudah lancar.
    Ketiga, kami tidak ingin membebani orang tua, karena kami menyadari bahwa memiliki tanggung jawab yang besar, tetapi kami juga mengharapkan kerja sama orang tua siswa, dalam hal pembelajaran apa pun, baik yang bersifat teori maupun aplikatif.
    Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf apabila terdapat kekeliruan, semoga kerja sama kita bisa lebih baik lagi demi pendidikan anak-anak kita.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    Balas
  • 4. Iih Faihaah  |  Maret 27, 2009 at 1:27 pm

    Saya juga setuju dan sudah menyarankan kalo tahfiz diajarkan secara klasikal dan tidak diajarkan dengan menu PR di rumah, tidak efektif, tugas murid bukan untuk menghafal di rumah tapi untuk belajar mengulang pelajaran yang diberikan di sekolah dan mempersiapkan pelajaran yang akan diajarkan esok harinya, kalo dibebani untuk menghafal lalu kapan belajarnya……………seharusnya rekruitmen guru sejak awal ada syarat HAFAL JUZ AMMA, jadi si guru bisa mengajari muridnya menghafal surat-surat dalam juz amma setiap pagi oleh guru kelasnya, tidak usah melalui guru tahfiz. Hal ini akan lebih efektif lagi apabila pada saat sholat dhuhur secara bersama-sama membaca surat yang sedang dihafalkannya dengan bacaan yang keras pada waktu sholat.
    masukan lagi, sebaiknya sholat dhuha dilakukan tiap hari, kan ini SDIT, jadi murid sudah diajarkan juga mengenai sholat sunat. Lalu mengenai pelajaran BTAQ, apa saja yang diajarkan disitu, apa hanya menghafal surat-surat ato pelajaran iqro, toh mungkin sebagian besar orang tua tujuan menyekolahkan anaknya di SDIT adalah agar terbantu dalam pelajaran agamanya (baca: bisa baca tulis alqur’an), sehingga kalo di rumah tidak ikut TPA, di sekolah sudah mendapatkannya.
    Masukan ini saya sampaikan demi keberhasilan pembelajaran anak-anak didik di SDIT alhikmah bukan ada maksud lain. Mari kita jaga nama SDIT (terpadu antara ilmu umum dan agama, terpadu antara komunikasi guru, murid dan orang tua siswa). semoga hikmah yang didapat sesuai nama al hikmah, benar-benar akan terwujud di kelak kemudian hari. Amin

    Balas
  • 5. Kurikulum  |  April 7, 2009 at 2:27 pm

    Terima kasih atas saran dan masukan yang diberikan, namun demikian, mohon beri kesempatan kepada kami untuk klarifikasi sebagai berikut:
    1. Sesekali tahfidz memang diajarkan secara klasikal, tetapi mengingat kemampuan setiap anak tidak sama, maka untuk pendalaman hafalan sehari-hari menggunakan metode berkelompok
    2. PR yang diberikan merupakan pengulangan dari hafalan yang sudah diajarkan di sekolah, bukan hafalan yang baru dan harus dihafal oleh anak sendiri, hal ini dimaksudkan agar anak terbiasa dan dapat menghafal lebih cepat
    3. Kami sudah melakukan uji hafalan bagi calon guru, khususnya guru tahfidz
    4. Sholat jama’ah kelas 1 dan 2 memang dijahrkan (dikeraskan) bacaannya, dengan membaca surat pendek yang sudah dihafal, plus do’a dan dzikir bersama, dan dilakukan di kelas, sedangkan sholat jama’ah kelas 3 s.d kelas 6 dilakukan di masjid dengan bacaan sirri (tidak bersuara), dan mereka pun mengulang (murojaah) hafalan setiap sebelum atau sesudah sholat
    5. Mengingat sholat dhuha merupakan sholat sunnat yang oleh Rasulullah tidak rutin dilakukan setiap hari, maka kami tidak mewajibkan, tetapi tetap mengajarkannya. Pada saat Pesantren Ramadhan, waktu yang disediakan untuk sholat dhuha lebih banyak (waktu khusus).
    6. Pada jam pelajaran BTAQ, ada 3 kegiatan dalam waktu yang sama, yaitu Tahfidz (hafalan surah pendek, dibimbing oleh guru Tahfidz, berkelompok), membaca Iqro’ / Qur’an (dibimbing oleh guru kelas, individual), dan menyalin ayat / hadis / do’a di buku tulis (Arabic book).
    Demikian klarifikasi yang kami sampaikan, semoga dapat menjadi informasi yang cukup bagi Bapak/Ibu.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Balas
  • 6. Iih Faihaah  |  April 21, 2009 at 8:23 am

    Assalamu”alaikum

    maaf untuk guru tahfiz bisa tidak ya pr menghafal ditulis di buku komunikasi soalnya anak saya termasuk pelupa, kalo dalam bentuk kertas kecil2 begitu gak pernah sampe rumah jadi kami orang tuanya tidak bisa mengecek tentang hafalannya, terima kasih semoga terkabul permohonan saya ini. Amin

    Wassalam

    Balas
  • 7. boendha  |  April 21, 2009 at 4:18 pm

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Anak sy sejak playgroup bersekolah di alhikmah dan insya Allah sebentar lg jd siswa baru di SD-nya. Dengan perkembangan SDIT sekarang, dan jika ingin terus berkembang, saya merasa lahan/lapangan yang ada kurang memadai. Terlalu sempit. Apakah ada rencana perluasan?
    Saya juga harap ada tur sekolah untuk ortu siswa baru karena pd saat open house tidak sempat melihat-lihat. Too crowded dgn anak2 yg lomba. Sy tdk sempat melihat lab2 yg tercantum di brosur.
    wassalamu’alaikum wr. wb.

    Balas
  • 8. Kurikulum  |  April 29, 2009 at 1:53 pm

    Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Setiap tahun kami mengadakan Silaturahim Awal Tahun, mengundang seluruh orang tua siswa baru, untuk memperkenalkan para guru dan staf, profil sekolah, serta sosialisasi program sekolah. Kami juga memberi kesempatan untuk dialog dengan Yayasan sebagai owner sekolah.
    Silakan tunggu undangannya.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Balas
  • 9. Imam Negara  |  April 29, 2009 at 8:02 pm

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Terimakasih atas penjelasannya mengenai tahfidz. Kami sangat menghargai beberapa hal yang telah dilakukan sekolah seperti dijelaskan oleh kurikulum dan ini Sy pikir cukup bagus dan tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mendukung.

    Kami sangat setuju bahwa seusia kelas 1 atau 2 (golden age) itu memang ingatannya masih bagus sehingga sangat ‘tepat’ dan baik kalo diisi dengan menghafal Qur’an.

    Sedikit usulan terhadap permasalahan yg mungkin dihadapi oleh anak-anak terkait masalah PR. (jawaban no.2), sbb:
    Memang dikelas mungkin siswa telah menghafal terlebih dahulu tetapi perlu dipertimbangkan bahwa tentunya siswa tidak langsung hafal.. makanya dilanjutkan dirumah dalam bentuk PR (kalo langsung hafal, brati tidak perlu jadi PR kan..).
    Kalau belum ‘begitu’ hafal tentunya ketika dirumah ada kemungkinan lupa sehingga tentunya diperlukan ‘alat’ pendukung untuk mengingat kembali hafalannya.

    Menurut hemat Sy beberapa alternatif yg dapat dilakukan mungkin sbb :
    1. Apabila siswa tsb sudah bisa/lancar BTAQ maka tools tersebut bisa menggunakan Quran atau Juz Amma. tetapi permasalahan untuk kelas 1(mungkin sampai kelas 2) “sedikit” anak-2 yang lancar BTAQ dan dapat membaca Qur’an/Juz Amma.
    2. Dibantu Orang tua atau Saudara. Tentunya satu dua kali gak masalah. ada kalanya Orang tua tidak sempat. mengingat pelajaran tersebut kan rutin sifatnya.
    3. Menggunakan Juz Amma yang ada terjemahan dan tulisan latinnya. Hal ini lumayan karena biasanya anak kelas 1 sudah banyak yang bisa membaca latin. Tetapi membaca latin pada Juz Amma selain bahasanya rumit bercampur-2 dengan arabnya dan terjemahannya. Sehingga anak-2 ‘kadang’ merasa malas.
    4. Menuliskan kembali Surat yang dihafal ke tulisan latin yang dibuat sesederhana mungkin dan disesuaikan dengan artikulasi ucapannya. Kelemahannya memang ada tambahan pekerjaan bagi guru yang bersangkutan untuk menuliskan kembali ayat dalam bentuk latin. Tetapi hal ini kan hanya sekali saja dan tentunya dapat digunakan berulang kali. Dan yang jelas berpahala.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Balas
  • 10. arlaida lubis  |  Mei 1, 2009 at 6:15 pm

    buat ms lina ms elis makasih ya………………..cup ah

    Balas
  • 11. Dariyah  |  Mei 15, 2009 at 2:42 pm

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Terima kasih kepada Mr/ Ms saya setuju dengan kegiatan menghafal Juzz Amma. Asalkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak dan akan lebih baik jika iqro’ nya terjadwal juga . Karna di bukom selama bulan Mei belum ada catatannya.
    Terima kasih .
    Wassalam.

    Balas
  • 12. sdit al-hikmah  |  September 4, 2009 at 9:12 am

    Kepada Yth,
    Bapak/Ibu Pengurus FKKS SDIT Al-Hikmah
    di
    tempat

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Dengan ini kami (YPI dan SDIT Al-Hikmah) mengundang Bapak/Ibu pengurus FKKS, baik periode lama maupun baru, untuk menghadiri acara Ifthor Jama’i (buka puasa bersama) yang insya Allah akan diselenggarakan pada:

    Hari/Tanggal : Jum’at, 4 September 2009
    Pukul : 16.00 WIB s.d. selesai
    Tempat : Ruang Serbaguna (bawah Masjid Al-Hikmah)
    Acara : Taushiyah oleh Ust. Abu Usamah

    Besar harapan kami agar Bapak/Ibu dapat menghadiri acara tersebut demi menjaga silaturahmi di antara kita. Selebihnya kami ucapkan terima kasih.

    Jazakumullahu khairan katsiran,
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed